aku memandang ke jalanan dari jendela kamarku
yah, aku cukup gelisah membayangkan bagaimana caraku melalui malam ini.
berbagai macam alasan, kata-kata bijak, dan kalimat-kalimat pembenaran telah kususun sedemikian rupa untuk mempertahankan posisiku.
yap, POSISI-KU..!!
hujan di malam ini cukup deras.
matahari seolah tidak pernah ada siang tadi.
yah, hujan yang menghasilka udara dingin ini cukup bisa membekukan kemarahanku tadi sore.
aku menarik napas panjang. berusaha memasukkan udara sebanyak-banyaknya dalam paru-paruku.
untuk memutuskan hubungan ini... SULIT!!!!
hatiku sungguh perih...
tapi di sisi lain,
hatiku sedang ditumbuhi bunga-bunga liar...
aku tersenyum
sekali lagi aku melihat jalanan yang semakin basah oleh hujan.
sementara aku memandang situasi yang dingin itu, mataku terpaku pada dua orang sosok anak kecil, laki-laki dan perempuan. kuperkirakan usia mereka 10-13 tahun.
si anak perempuan mendekap bungkusan kantongan di dadanya, sedangkan anak lelaki itu berusaha mencari sesuatu dalam bungkusan lainnya.
aku masih memandangi mereka, sampai akhirnya si anak lelaki menyelimuti si anak perempuan dengan sebuah jaket.
aku tersentak
pikiranku kembali melayang...
pikiranku kembali ke bumi
aah, aku baru sadar...
dia telah membuatku jatuh cinta
tapi, saat ini... ingatanku kembali.
aku mengambil handphone yang sedari tadi sengaja aku matikan.
aku mengetik nomer handphonenya,
"halo? sayang...", ucapku... tetapi kemudian aku diam tak tahu ingin mengatakan apa
"aku mencintaimu, bahkan aku tak tahu bagaimana caranya agar aku bisa tidak mencintaimu" katanya
yah, aku cukup gelisah membayangkan bagaimana caraku melalui malam ini.
berbagai macam alasan, kata-kata bijak, dan kalimat-kalimat pembenaran telah kususun sedemikian rupa untuk mempertahankan posisiku.
yap, POSISI-KU..!!
hujan di malam ini cukup deras.
matahari seolah tidak pernah ada siang tadi.
yah, hujan yang menghasilka udara dingin ini cukup bisa membekukan kemarahanku tadi sore.
"AKU MAU KITA PISAH. TITIK!!!!", teriakku dengan sangat lantang di ruang tengah rumah kami.
"tapi kenapa sayang?"
"...."
"kamu kenapa? ada apa dengan aku? kamu mau kita pisah? cerai? tapi aku ngga tau masalah kita apa...", ucapnya dengan kata yang sangat pelan.
Sangat menandakan bahwa dia telah mengenalku dengan baik. Dia telah mengerti bahwa aku tidak bisa dilawan dengan kemarahan.
"POKOKNYA.... AKU.... MAU.... KITA... CERAI", tegasku.
"tapi kenapa?"
aku menatapnya.
berusaha menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
aku berusaha membuat tatapanku semakin sinis, "KARENA AKU SUDAH MUAK!!! KAMU SELINGKUH!!!"
"apa??? selingkuh??? tapi kamu dengar da...."
"NGGA PERLU TAU AKU DAPAT KABAR DARI SIAPA!!! AKU PERGI DARI HIDUP KAMU", potongku segera. sebelum dia berusaha menggali pikiranku.
aku menarik napas panjang. berusaha memasukkan udara sebanyak-banyaknya dalam paru-paruku.
ini akan menjadi sangat berat, dirinya, orangtuaku, orangtuanya.... ouchhh!!!!
untuk memutuskan hubungan ini... SULIT!!!!
hatiku sungguh perih...
tapi di sisi lain,
hatiku sedang ditumbuhi bunga-bunga liar...
aku tersenyum
sekali lagi aku melihat jalanan yang semakin basah oleh hujan.
sementara aku memandang situasi yang dingin itu, mataku terpaku pada dua orang sosok anak kecil, laki-laki dan perempuan. kuperkirakan usia mereka 10-13 tahun.
si anak perempuan mendekap bungkusan kantongan di dadanya, sedangkan anak lelaki itu berusaha mencari sesuatu dalam bungkusan lainnya.
aku masih memandangi mereka, sampai akhirnya si anak lelaki menyelimuti si anak perempuan dengan sebuah jaket.
aku tersentak
pikiranku kembali melayang...
saat itu hari juga hujan...
"kamu kedinginan yah?"
aku menggeleng, berpura-pura kuat, tetapi sedetik kemudian, aku merasakan sesuatu yang hangat menempel di pundakku. saat aku melihatnya, dia tersenyum, "aku kepanasan sayang! tapi aku ga punya tenaga buat megang jaket itu, jadi aku titip di pundak kamu yah? ga pa-pa kan?"
aku tersenyum
di hari yang lain,
"eh, tau ngga, si Tono mau nikah loh..!" katanya saat kami makan siang berdua di restoran fastfood
"oh ya?? sama pacarnya yang waktu SMP yah sayang?"
"iya, betah juga yah dia? hehee..."
aku tersenyum sambil menikmati makananku
"kita nikah juga yuk sayang!"
aku menatapnya dengan tatapan yang sangat sangat sangaaatt bodoh, dengan mulut yang masih penuh
"mau ngga?" .. "nikah sama aku, yah??" sambungnya.
aku mengunyah makananku dengan cepat, kemudian mengatur napas, dan menganggukk
pikiranku kembali ke bumi
aah, aku baru sadar...
dia telah membuatku jatuh cinta
aku mungkin LUPA...
LUPA bahwa dia mencintaiku dengan sangat
LUPA bahwa aku mencintainya dengan sangat
tapi, saat ini... ingatanku kembali.
aku mengambil handphone yang sedari tadi sengaja aku matikan.
aku mengetik nomer handphonenya,
"halo? sayang...", ucapku... tetapi kemudian aku diam tak tahu ingin mengatakan apa
"aku mencintaimu, bahkan aku tak tahu bagaimana caranya agar aku bisa tidak mencintaimu" katanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar